Ini Mindset Fundraising yang Lebih Mantul

Ini Mindset Fundraising yang Lebih Mantul

Setiap kali saya sedang sharing soal fundraising dan berada di slide tentang definisi fundraising, saya selalu teringat film 3 IDIOT. Terutama adegan ketika si “Rancho” berada di kelas dan diminta menjelaskan tentang definisi “mesin”.

Si peyakin “All iz well” menjelaskan definisi mesin secara sederhana dan mudah dipahami, namun sang guru malah menyalahkan. Justru sebaliknya, membenarkan si “Chatur” yang menjawab definisi mesin dengan model hapalan text book.

Hehe, saya gak mau ceritain filmnya, silahkan tonton sendiri aja yaa. Cuma sebagai pengantar aja.

Soal pengertian Fundraising, untuk saya, Fundraising setidaknya perlu dipahami dalam 4 komponen:

a. Serangkaian proses komunikasi terpadu
(terdiri dari banyak aktivitas yang saling terkait dalam menyampaikan sebuah pesan yang menggugah dan mengajak masyarakat ikut bergerak)

b. Dalam menggalang sumberdaya masyarakat yang ditargetkan
(bisa berupa uang, barang, ekspertis, tenaga, dan lainnya yang bisa disetara uang kan; dimana terdapat besaran nilai yang ingin dicapai dalam rentang waktu tertentu)

c. Dari sejumlah orang yang peduli
(tidak semua orang siap berbagi; maka sebagian akan menolak, namun pasti ada sebagian lain yang akan berdonasi)

d. Untuk beragam program sosial, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, akses modal dan atau lingkungan bagi masyarakat yang membutuhkan.
(disalurkan untuk penerima manfaat dalam beragam program yang sesuai kebutuhan dan potensi lokal).

Itu pemahaman fundraising menurut saya. Silahkan dihapalkan supaya bisa menjelaskan sekiranya ada yang bertanya: “bekerja dimana? dan dilanjutkan sebagai apa?” hahaha…

Hanya saja, itu versi panjang. Saya pribadi punya versi sederhana dan mantul (mantap betul) ala “Rancho 3 Idiot” tentang pemahaman Fundraising. Apa itu?

Buat saya,

FUNDRAISING ADALAH SILATURAHIM UNTUK KEBERKAHAN HIDUP!

Ada dua elemen yang saya highlight. Pertama: Silaturahim, dan kedua: Keberkahan. Kenapa why? 🙂

Kita mulai penjabarannya dengan:

“Keberkahan” dalam Fundraising

Begini,

Fundraiser (kita yang melakukan fundraising) bergerak dalam khidmat membantu penerima manfaat atau program yang kita yakini bermanfaat adanya.

Sebagai fundraiser ziswaf, kita bergerak dalam khidmat membantu mustahik, membantu 7 dari 8 ashnaf/golongan zakat, dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik. Hidup lebih layak, lebih cerdas, lebih sehat, lebih berdaya. Bisa jadi pula, untuk lingkungan yang lebih hijau, bangkit dari keterpurukan karena bencana, atau kehidupan yang lebih madani/islami, dan sebagainya.

Kita bergerak semata karena mereka para penerima manfaat dapat hidup lebih baik esok dari kehidupan mereka hari ini. Dan mimpi besarnya, bahkan membuat mereka tidak lagi menjadi penerima zakat, tetapi bertransformasi menjadi pembayar zakat.

Saat terjadi, maka inilah keberkahan, suatu kondisi perubahan yang lebih baik dan bertumbuh dari hari ke hari.

Senangnya, dalam kaidah Islam, berderma bukan hanya dalam konteks kepedulian. Tapi juga arahan, anjuran, bahkan kewajiban buat semua muslim.

Berzakat, bersedekah, berwakaf, adalah sebuah ibadah harta yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai sebuah amal yang tidak hanya memberikan manfaat kepada yang diberi, tetapi juga memberikan manfaat kepada yang memberi.

Betapa banyak ayat-ayat Al Quran dan hadist-hadist Rasulullah yang memberikan penjelasan, inspirasi hingga perintah bergerak berderma yang akan berbalas kebaikan. Dan menariknya, tidak hanya dalam konteks pahala, tetapi juga dalam konteks mengatasi problem kehidupan dan harapan kehidupan yang lebih baik.

Dengan kata lain, aktivitas fundraising yang mengajak orang lain ber-ziswaf, tidak lain adalah aktivitas yang menawarkan manfaat kehidupan yang lebih baik di hari esok bagi mereka yang kita tawarkan ajakan berbagi ini.

Bagi Donatur, zakat membersihkan dan mensucikan harta sehingga lebih mudah bertumbuh. Sedekah menjauhkan dari musibah, mengobati penyakit, menyelesaikan masalah, dan mengembangkan harta. Wakaf memberikan kebaikan yang mengalir abadi meski sudah wafat. Dan seterusnya.

Jadi, fundraising juga berkhidmat dalam membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan bagi para donatur. Dan inilah esensi keberkahan itu sendiri.

Asyik kan?

Penerima manfaat berkah, pemberi ziswaf berkah. Semua insya Allah terjadi karena fungsi fundraising berjalan.

“Kalau buat kita yang bergerak di fundraising bagaimana?”, munculkah pertanyaan ini?

Izinkan saya menjawab, bergerak saja, berkhidmat saja, karena buat saya hadist berikut ini sudah cukup membahagiakan:

“Barangsiapa mengajak pada petunjuk (amal saleh), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali; dan barangsiapa mengajak pada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali.” (HR Muslim)

“SILATURAHIM” sebagai Esensi Fundraising

Fundraising adalah ikhtiar serupa dengan marketing. Hanya saja, fundraising adalah irregular marketing. Banyak perbedaan mendasar.

Dalam hal fundraising, kita tidak bicara “produk “dan “pelanggan”, tetapi “VISI – MISI” dan “PENDUKUNG”..

Di marketing, marketer berusaha mencari orang-orang yang setuju untuk memakai produk/layanan yang mereka tawarkan.

Di Fundraising, kita berusaha mencari orang-orang yang setuju untuk Mendukung Visi – Misi lembaga / program kita.

Pendukung sendiri bisa bermacam bentuk, setidaknya simpatisan, relawan dan donatur.

Maka, pijakan utama Fundraising adalah membangun “basis pendukung” seluas-luasnya, hingga akhirnya menjadi donatur.

Mengapa?

Karena “donasi” adalah hasil persetujuan tertinggi atas pertimbangan donatur terhadap visi-misi atau program yang lembaga kita lakukan. Dan ini muncul dari proses pertimbangan yang rumit.

Di sisi lain, dengan atau tanpa keyakinan donatur yang tinggi terhadap perjuangan lembaga kita, donasi tidak lah seperti tagihan listrik yang perlu dibayar setiap bulan.

Adalah harapan kita donatur berdonasi rutin setiap bulan seperti hal nya mereka membayar listrik. Hanya saja, saat tagihan listrik tidak dibayar, konsekuensi pemutusan sambungan listrik pasti mengancam kenyamanan mereka.

Lhaa… saat mereka tidak berdonasi di bulan berikutnya, tidak ada hal yang bisa secara langsung menjadi konsekuensi dari lembaga kita kan ya? 🙂

Belum lagi kenyataan bahwa, pilihan donasi adalah sangat banyak. Lembaga sosial lain, masjid dekat rumah, teman terkena musibah, dompet amal alumni, tetangga yang membutuhkan, kerabat di kampung, panti asuhan seberang jalan, pesantren milik ustadz-nya, portal crowdfunding, dan lainnya.

Karena itu, buat saya pribadi, tidak ada istilah Donatur Tetap, tapi Donatur Rutin, Donatur Tidak Rutin dan Calon Donatur.

Memenangkan hati donatur setiap bulan, bahkan setiap hari, adalah tugas utama kita, terlepas mereka sudah pernah berdonasi atau pun belum.

Jadi kembali, pijakan utama Fundraising adalah membangun “basis pendukung” seluas-luasnya, hingga akhirnya menjadi donatur.

Donasi akan silih berganti hadir dari orang-orang yang menjadi basis pendukung lembaga kita. Semakin loyal basis pendukung yang dimiliki, semakin pasti keberlanjutan penghimpunan donasi bagi lembaga.

Nah, membangun basis pendukung inilah yang kemudian saya artikan sebagai aktivitas “silaturahim” yang menjadi esensi fundraising.

Silaturahim bermakna “menyambung kekeluargaan”. Maka, basis pendukung perlu diposisikan selayaknya membangun persaudaraan yang memiliki hubungan erat layaknya sebuah keluarga. Perlu aktivitas yang intens, dikemas dengan elegan, dan layanan yang hangat.

Basis pendukung tidak lah cukup hanya sebatas database nama, telpon, email dan alamat rumah. Basis pendukung juga perlu dicermati bagaimana persepsi, preferensi dan kritisi-nya terhadap perjuangan visi-misi lembaga kita.

Sebagaimana catatan guru saya Pak Ahmad Juwaini yang sering terngiang, “Setiap lembaga ziswaf pasti akan hidup dan bertumbuh selama dia bisa membangun loyalitas pendukungnya dalam meyakini perjuangan visi-misi lembaga”.

Mantul?

Salam menerus,

Urip Budiarto
Lead Servant at Menerus.com

Punya pertanyaan seputar Fundraising dan Sustainability? Silahkan email ke urip@menerus.com. Kita akan bahas di tulisan berikutnya. Insya Allah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *