Yang Asyik di Balik Kitabisa.com

Yang Asyik di Balik Kitabisa.com

Satu bulan sudah saya berpindah tugas dari Kitabisa.com ke Komite Nasional Keuangan Syariah. Tapi, rasanya sudah begitu lama. Jadilah, nulis artikel pelampiasan kangen ^_^.

Dibalik pertumbuhan nilai fasilitasi donasi yang mengagumkan, rata-rata diatas 250% setiap tahun, harus saya akui, ada hal besar yang memang berbeda di Kitabisa.

Apa itu? Kultur organisasi yang terbangun.

M. Alfatih Timur (CEO, Founder) bersama para co-founder Vikra Ijas (CPO) dan Galih Prasetya (CTO), tidak hanya sukses membangun sebuah startup crowdfunding sosial, tapi juga sudah sangat dahsyat menghadirkan “jiwa” dari Kitabisa kepada seluruh tim yang terlibat.

Dalam konteks yang renyah, Timmy, sapaan sang CEO, sampaikan bahwa nilai-nilai yang menjadi panduan para Doers (sebutan bagi tim di Kitabisa) terdiri atas: Believe in the “why”, Customer Obsessiveness, dan Merasa Bodoh. Detailnya bisa Anda lihat di artikel ini: 3 Nilai Utama Pemandu Kitabisa.com

Dengan jumlah tim yang telah melebihi 150 orang yang sebagian besar baru, Kitabisa memang merasa perlu untuk terus menggemakan nilai-nilai utama keberadaan mereka. Kitabisa ingin setiap personil yang berkarya di Kitabisa melihat misi yang lebih besar atas aktivitas harian mereka.

Dalam sebuah kesempatan, Timmy sharing 4 buah cerita yang sangat menarik dan membuat kami lebih mudah menghapal dan memahami nilai-nilai Kitabisa: Empathy, Curiosity, Data Driven, dan Doing Extra Mile. Dan ada momen lain, Galih sang CTO, membuat presentasi interaktif, terkait pemahaman dan contoh yang relevan dengan nilai-nilai Kitabisa. Sementara Vikra, selalu memaparkan growth achievement tanpa lupa menyertakan arti pencapaian pada beneficiaries. Salut buat segala upaya penanaman value ini.

Tidak hanya dalam konteks pemahaman, Timmy juga mendorong setiap orang bisa self-discovery atas makna kerja mereka di Kitabisa. Secara rutin, setiap orang diminta untuk bisa melakukan kunjungan ke campaigner (penggalang dana) atau penerima manfaat yang telah terbantu untuk mendalami cerita-cerita yang terjadi. Tim product development perlu ada kunjungan rutin ke donatur mencari feedback, insight dan WOCAS (what our customer are saying) sebagai bahan pertimbangan pengembangan fitur kemudahan Kitabisa.

Kayaknya serius terus yaa? Nggak juga.

Ini sisi asyiknya, suasana kerja yang kekeluargaan, akrab dan egaliter mantul banget di Kitabisa. Buat senior milenial macam saya, suasana kerja agak berasa seperti jaman UKM dulu (unit kegiatan mahasiswa). Bedanya, terkelola dan berpenghasilan ^_^.

Ruang kerja yang open space dengan meja tanpa kubikel membuat bisa lebih interaktif. Bosen di meja, bisa di sofa atau lesehan di karpet. Perlu fokus, pasang headphone. Perlu refreshing, buka game atau nonton yutub. Perlu hiburan, buka instagram @dramaponpin (ups.. cuma buat yang paham :D)

Meeting gak perlu lama-lama, 1 jam sudah maksimal. Lebih ke alignment yang mastiin kesamaan objective, identifikasi problem, dan rencana solusi. Toh, proses kerja sudah sangat kolaboratif dengan bantuan tools seperti Slack, Trello dan Google Suite.

Ada roti kalo pagi; pake mesis, atau dibakar silahkan pilih. Makan siang kumpul bareng di meja samping pantry. Nasi sudah disiapkan. Jadi tinggal beli lauk dan sayur aja. Ada buah-buahan dan krupuk tersedia. Telat beli lauk? Goreng telor ceplok sendiri aja di kompor pantry.

Habis tanggal gajian, ada jatah hangout divisi. Terserah mau kemana, makan oke, nonton boleh, trampolinan juga silahkan. Selama maksimal budgetnya seratus ribu per orang ^_^. Outing juga ada (kabarnya) haha..

Kenapa ini saya ceritakan?

Saya meyakini bahwa membangun fundraising yang bertumbuh dengan baik sulit berhasil tanpa diiringi upaya pembangunan lembaganya.

Ibarat ada sebuah ember bervolume 20 liter, akan lah tidak mungkin air yang ditampung lebih dari 20 liter. Kalau air yang ingin ditampung sebesar 1000 liter, maka kita perlu mengganti sang ember menjadi sebuah toren air kapasitas 1000 liter.

Demikian halnya kemampuan lembaga dalam menampung dana. Perlu upaya pembangunan, evaluasi dan perbaikan terus menerus untuk melihat apakah kapasitas kelembagaan yang dimiliki mampu mengelola target-target yang ditetapkan.

Kejelasan, kesepahaman dan kepemilikan tim atas visi misi lembaga akan sangat besar dampaknya bagi percepatan pertumbuhan penghimpunan dan ujungnya kebermanfaatan lembaga. Ditambah tauladan serta konsistensi top manajemen dalam implementasi nilai-nilai, tim yang terlibat akan semakin merasa terikat dengan visi dan misi yang ingin diraih lembaga.

Namun jika sebaliknya, pertumbuhan lembaga yang diharapkan tentu akan lebih sulit tercapai tanpa dukungan maksimal dari tim yang dimiliki. Personil unggulan pun akan merasa gamang dan lemah alasan untuk bertahan.

Semoga Allah mudahkan selalu ikhtiar lembaga Anda dalam membangun kebermanfaatan.

Salam Menerus,

Urip Budiarto
Lead Sharer at Menerus.com

Punya pertanyaan seputar Fundraising dan Sustainability? Silahkan email ke urip@menerus.com. Kita akan bahas di tulisan berikutnya. Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *