Seberapa Mahal Biaya Akuisisi per Donatur Lembaga Anda?

Seberapa Mahal Biaya Akuisisi per Donatur Lembaga Anda?

Dalam dunia komersial, dikenal istilah Customer Acquisition Cost (CAC). Mengadaptasi untuk dunia non profit, mari bahas soal Donor Acquisition Cost (DAC), besaran rupiah yang dikeluarkan untuk memperoleh satu donatur baru.

Cara menghitungnya?

Sederhana. Bagi semua biaya fundraising (dan komunikasi) dengan jumlah donatur baru yang diperoleh. Bulan per bulan, lalu dihitung lagi per tahun.

Contoh, semua pengeluaran terkait fundraising dan komunikasi ke publik tahun 2018 sebesar Rp 100 juta.

Sementara jumlah donatur baru diperoleh 1.000 orang.

Maka, DAC lembaga ini adalah Rp 100 juta dibagi 1.000 orang, sama dengan Rp 100 ribu per donatur baru di tahun itu.

Gampang kan?

Kita lanjut.

Kalo satu informasi tambahan saya berikan, bahwa di tahun 2018 itu ternyata total penghimpunan donasi adalah Rp. 200 juta dari 1.250 donatur. Sehingga rata-rata donasi per donatur Rp 160 ribu.

Saat kita bandingkan dengan DAC yang sebesar Rp 100 ribu, maka DAC adalah 62,5% dari nilai rata-rata donasi. Dan total investasi fundraising, sama dengan 50% (Rp 100 juta dibagi Rp 200 juta) dari total donasi tahun 2018.

Pertanyaan berikutnya, DAC lembaga ini termasuk murah atau malah mahal?

Membahas ini, kita perlu lihat lagi istilah lain yang disebut Donor Lifetime Value (DLV), sebuah besaran rata-rata kontribusi seorang donatur kepada lembaga sejak donasi pertama sampai donasi terakhir (berhenti menjadi donatur).

Dari mana DLV diperoleh? Catatan transaksi fundraising selama ini.

Kalau lembaga masih baru? Buat asumsi aja.

DLV akan sangat dipengaruhi kemampuan lembaga dalam me-retensi seorang donatur. Seberapa handal membuat donatur sesering mungkin tergerak berdonasi ke lembaga Anda.

Faktor retensi antara lain:

  • Kemampuan mengkomunikasikan dampak lembaga,
  • Kemudahan dan kenyamanan berdonasi, serta
  • Transparansi.

Menurut sebuah riset, biaya memperoleh donasi dari donatur baru adalah 6 kali lebih mahal dari donatur lama.

Jadi, kemampuan lembaga dalam membangun donasi berulang jadi sangat penting agar investasi fundraising lebih efeisien efektif.

Andaikan tercatat bahwa si lembaga ini memiliki info bahwa umumnya rata-rata donatur berkontribusi Rp 2 juta selama 3 tahun sejak pertama kali bergabung, maka inilah nilai DLV-nya.

Tinggal tetapkan, berapa persen dari si Rp 2 juta ini yang kita anggap wajar sebagai maksimal investasi untuk akuisisi donatur atau DAC nya. Kita sebut saja Batas Maksimal DAC. Katakanlah 10%, maka kita berarti siap menanggung biaya fundraising maksimal Rp 200 ribu untuk setiap donatur baru yang diperoleh.

Sehingga, bisa dibandingkan, bahwa DAC Rp 100 ribu, versus DLV Rp 2 juta, maka rasio-nya adalah 5% dari DLV. Masih dibawah Batas Maksimal DAC 10%. Maka masih bisa kita anggap murah.

Rasio 62,5% dari rata-rata donasi tahun berjalan tersebut di awal, yang bisa jadi terasa besar, kita anggap sebagai investasi fundraising dalam rangka membangun pertumbuhan pendanaan lembaga di masa depan.

Tapi sebagai disclaimer, adalah fungsi yang sangat penting untuk terus berikhtiar mengoptimalkan setiap rupiah budget fundraising yang kita miliki setiap waktu.

Sehingga, meski dengan menimbang DLC, DLV dan rasio nya, saya berharap Anda berusaha untuk menjaga total budget fundraising dan komunikasi lembaga tidak lebih dari 25% pada tahun berjalan.

Jadi, kalaupun overhead lembaga mencapai 20% dari total penghimpunan, alokasi porsi budget program masih sebesar 55% untuk Anda berdayakan kepada penerima manfaat.

Pada akhirnya, kemampuan lembaga untuk dapat mengelola anggaran secara efektif dan efisien dalam menghasilkan dampak dan kembermanfaatan yang paling optimal, akan menentukan keberlanjutan kepercayaan dukungan donatur kepada lembaga.

Nah, kembali ke hitung-hitungan, bagaimana kalo di lembaga Anda?

Salam Menerus,

Urip Budiarto
Lead Sharer at Menerus.com

Punya pertanyaan seputar Fundraising dan Sustainability? Silahkan email ke urip@menerus.com. Kita akan bahas di tulisan berikutnya. Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *